"Tunggu Put, tunggu aku. Aku minta maaf," teriak Bianca sedari tadi padaku.
"Maaf? Kamu pikir dengan kamu minta maaf bisa ngerubah semuanya?" balasku.
"Aku tahu Put, tapi aku minta maaf. Aku sayang kamu, ngga mungkin aku ngelakuin semua itu. Sungguh bukan aku Put yang ngelakuinnya," jelas Bianca dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Apa iya aku harus percaya dengan semua omonganmu? Sementara sudah ada bukti yang lebih kuat? Dasar bego!" sentakku pada Bianca yang membuatnya sedikit kaget karena aku menyebutkan kata 'bego'.
"Iya Put, aku memang bego. Aku tahu dimata kamu aku sudah ngga berarti sama sekali, tapi aku benar-benar ngga pernah ngelakuin semua itu. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu," jelas Bianca lagi.
"Lalu kalau memang benar bukan kamu, terus apa bisa semua file itu bisa pindah dengan sendirinya? Gara-gara kamu aku gagal mendapatkan uang untuk operasi kakakku, padahal kamu tau aku sangat butuh sekali uang itu," jawabku dengan suara yang lebih tinggi.
"Iya Put aku tahu, tapi bener aku ngga bohong sama kamu, bener bukan aku yang ngelakuin semuanya. Tolong kamu percaya sama aku Put, aku mohon." jelas Bianca sekali lagi dengan menahan sekuat tenaga agar air matanya yang sudah hampir jatuh tidak sampai menetes dihadapanku.
"Udah udah! aku sudah muak dengan semua ocehanmu itu. Sekarang sebaiknya kamu pergi dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Dan satu hal yang perlu kamu ingat, sekarang aku bukan lagi menjadi sahabatmu!" bentakku sekali lagi pada Bianca yang mampu mengagetkan semua anak yang berada disekelilingku.
"I....iya Put, iya aku akan melakukan semua kemauanmu itu. Aku ngga akan pernah lagi muncul dihadapanmu," jawab Bianca dengan sedikit terisak.
"Oke, bagus deh kalau kamu ngerti. Sudah sekarang pergi sana!"
Dengan mendengar semua omonganku tadi, Bianca langsung berlari meninggalkanku.
Setelah peristiwa itu terjadi, sepertinya Bianca benar-benar menuruti kemauanku. Ia tak pernah lagi muncul dihadapanku. Setiap hari disekolah aku tak pernah melihat Bianca berkeliaran di lingkungan sekolah. Aku pernah mencoba sekali bertanya keberadaan Bianca pada teman-teman sekelasnya, namun mereka bilang setiap diajak keluar kelas, Bianca selalu menolak. Alasannya ia ingin konsen dalam belajar karena sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional. Sebenarnya aku juga rindu sekali pada Bianca, sahabat yang selama ini selalu menemaniku kemana-mana, yang selalu mendukungku, dan yang selalu tau bila aku sedang butuh dengannya.
Sore harinya Ibuku bilang kalau ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Kakakku. Begitu bahagianya aku mendengar kabar itu. Tanpa berlama-lama kami sekeluarga langsung menuju rumah sakit untuk mengantar Kakakku operasi.
Satu jam lebih aku, ayah, dan ibuku dengan sabar menunggu kakakku keluar dari kamar operasi. Akhirnya tepat dua jam ada seorang dokter muda keluar dari kamar operasi itu yang memang daritadi sudah kutunggu-tunggu. Dokter muda itu mengatakan bahwa operasi kakakku berhasil.
Esoknya kakakku sudah dipindahkan ke ruang rawat inap biasa, beberapa jam setelah aku menunggu akhirnya kakakku sadar juga. Senyum bahagia diraut wajah ayah dan ibuku terlihat sangat jelas melihat akhirnya kakakku sudah sadar kembali. Aku pun juga merasa sangat bahagia sekali melihat kakakku sudah siuman dan sembuh dari penyakitnya.
Tiga hari setelah operasi itu, kakakku sudah di izinkan dokter untuk kembali ke rumah. Rasanya bahagia sekali, akhirnya bisa berkumpul lagi bersama mereka di rumah yang nyaman walau memang tidak terlalu besar ini.
Namun kira-kira siapa ya orang yang sangat baik yang mau dengan ikhlas mendonorkan ginjalnya untuk kakakku? Tanyaku dalam hati.
Aku pernah bertanya pada Ayah dan Ibuku tentang siapa yang mendonorkan ginjalnya untuk kakakku, namun mereka bilang tidak tahu yang membuat aku semakin penasaran.
Besok paginya aku berangkat sekolah dengan penuh semangat. Tiba-tiba sesampainya aku di gerbang sekolah, Fira teman sekelasku berlari menghampiriku.
"Putri! akhirnya kamu masuk sekolah juga. Aku mau minta maaf Put sama kamu, aku benar-benar menyesal sekali," kata Fira dengan nafas yang sangat tak beraturan.
"Minta maaf? Maaf untuk apa Fir, kamu sama sekali ngga salah apa-apa sama aku,"
"A...A...Aku...Aku yang sengaja ngambil file mu yang kapan hari itu Put, dan aku juga yang udah nge-copy semua file-file mu. Aku disuruh untuk menghancurkan persahabatan kalian berdua. Aku...Aku minta maaf Put,"
"Jadi benar bukan Bianca yang sengaja nge-copy semua file ku kapan hari itu? Kenapa kamu tega ngelakuin semua itu Fir, siapa yang menyuruhmu melakukan semuanya?" tanyaku dengan nada kesal.
"Iya aku minta maaf Put, Namira yang menyuruhku. Saat itu aku butuh sekali uang, jadi aku terpaksa mau menuruti perintah Namira,"
"Walaupun kamu terpaksa, tapi ngga seharusnya kamu ngelakuin itu Fir. Tega banget kamu Fir!" bentakku pada Fira, kali ini aku benar-benar marah sekali.
"I...Iya Put, aku tahu, aku bener-bener minta maaf sama kamu. Put, kamu sudah tau belum kalau Bianca sudah beberapa hari ini sedang koma di rumah sakit. Kapan hari sebelum dia izin ngga masuk sekolah, dia bilang dia akan mendonorkan ginjalnya untuk kakakmu. Katanya, dia mau membalas rasa bersalahnya sama kamu," kata-kata Fira kali ini yang membuatku sangat terkejut.
Tanpa pikir panjang, aku segera berlari pulang. Setelah sampai dirumah, dengan cepat aku langsung mencari ibuku yang sedang berada diruang tamu.
"Ibu, apa benar Bianca yang mendonorkan ginjalnya untuk Kak Faris?" tanyaku dengan nada yang sedikit emosi dan air mata yang sudah bercucuran. Tersentak Ibu kaget dengan keberadaanku yang muncul tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
"Kamu bisa tau darimana Put?"
"Jadi benar kalau Bianca yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk Kak Faris? Dan selama ini Ibu sudah tau dan Ibu ngga mau bilang ke aku?" tanyaku lagi dengan tangisan yang sejadi-jadinya.
"Iya sayang, maafkan ibu. Ibu terpaksa melakukannya, ini semua permintaan Bianca sendiri agar kamu tidak menolaknya. Sekarang Bianca ada dirumah sakit, dia koma sayang. Ibu harap kamu yang tabah ya," jelas Ibu padaku sambil mengusap-usap rambutku.
"Antarkan aku sekarang juga ke rumah sakit, Bu. Aku ingin menengok Bianca, aku juga ingin minta maaf sama dia, Bu."
Seandainya dulu aku mau mendengarkan penjelasanmu dulu, pasti semuanya ngga akan seperti ini keadaannya.
Sampainya aku di rumah sakit, aku melihat Bianca yang sedang berjuang untuk hidupnya. Kala itu aku menangis sejadi-jadinya melihat sahabat yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri terbaring lemah didalam ruang ICU.
"Aku minta maaf Bi, aku minta maaf. Get well soon ya, aku sayang sama kamu," ucapku lirih sambil melihat sahabatku dari jendela kaca ruang ICU.
Dan semoga masih ada kesempatan kedua untuk aku bisa memperbaiki semuanya ini, semoga kita masih bisa tertawa lepas seperti dulu lagi. Aku merindukanmu Bi, semoga kamu lekas sembuh.
-pdi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar